Sabtu, 20 September 2008




BANDUNG LAUTAN API 2/2
Suatu hari di Bulan Maret 1946, dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk mengukir sejarah dengan membakar rumah dan harts benda mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di selatan. Beberapa tahun ke¬mudian, lagu "Halo Halo Bandung" ditulis untuk melambangkan emosi mereka, seiring janji akan kembali ke kota tercinta, yang sekarang telah menjadi lautan api.

Setelah ProklamasiKemerdekaan 17 Agustus 1945, Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Kemerdekaan harus dicapai sedikit demi sedikit melalui perjuangan rakyat yang rela mengorbankan segalanya. Setelah Jepang kalah, tentara Inggris datang untuk melucuti tentara Jepang. Mereka berkomplot dengan Belanda dan memperalat Jepang untuk menjajah kembali Indonesia. Jejak Perjuangan "Bandung Lautan Api" membawa kita menelusuri kembali berbagai kejadian di Bandung yang berpuncak pada suatu malam mencekam, saat penduduk melarikan diri, mengungsi, di tengah kobaran api dan tembakan musuh.Sebuah kisah tentang harapan, keberanian dan kasih sayang. Sebuah cerita dari para pejuang kita ... Berita pembacaan teks Proklamasi Kemerde¬kaan dari Jakarta diterima di Bandung melalui Kantor Berita DOMEI pada hari Jumat pagi, 17 Agustus 1945. Esoknya, 18 Agustus 1945, cetakan teks tersebut telah tersebar. Dicetak dengan tinta merah oleh Percetakan Siliwangi. Di Gedung DENIS, Jalan Braga (sekarang Gedung Bank Jabar), terjadi insiden perobekan warna biru bendera Belanda, sehingga warnanya tinggal merah dan putih menjadi bendera Indonesia. Perobekan dengan bayonet tersebut dilakukan oleh seorang pemuda Indonesia bernama Mohammad Endang Karmas, dibantu oleh Moeljono.Tanggal 27 Agustus 1945, dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR), disusul oleh terbentuknya Laskar Wanita Indonesia (LASWI) pada tanggal 12 Oktober 1945. Jumlah anggotanya 300 orang, terdiri dari bagian pasukan tempur, Palang Merah, penyelidikan dan perbekalan. Peristiwa yang memperburuk keadaan terjadi pada tanggal 25 November 1945. Selain menghadapi serangan musuh, rakyat meng¬hadapi banjir besar meluapnya Sungai Cikapundung. Ratusan korban terbawa hanyut dan ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal. Keadaan ini dimanfaatkan musuh untuk me¬nyerang rakyat yang tengah menghadapi musibah.
Berbagai tekanan dan serangan terus dilakukan oleh pihak Inggris dan Belanda. Tanggal 5 Desember 1945, beberapa pesawat terbang Inggris membom daerah Lengkong Besar. Pada tanggal 21 Desember 1945, pihak Inggris menjatuhkan bom dan rentetan tembakan membabi buta di Cicadas. Korban makin banyak berjatuhan. Ultimatum agar Tentara Republik Indonesia (TRI) meninggalkan kota dan rakyat, melahirkan politik "bumihangus". Rakyat tidak rela Kota Bandung diman¬faatkan oleh musuh. Mereka mengungsi ke arah selatan bersama para pejuang. Keputusan untuk membumi¬hanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan, pada tanggal 24 Maret 1946.Kolonel Abdul Haris Nasution selaku Komandan Divisi III, mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan untuk meninggalkan Kota Bandung. Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota. Malam itu pembakaran kota berlangsung besar-besaran. Api menyala dari masing-masing rumah penduduk yang membakar tempat tinggal dan harta bendanya, kemudian makin lama menjadi gelombang api yang besar. Setelah tengah malam kota telah kosong dan hanya meninggalkan puing-puing rumah yang masih menyala. Pembumihangusan Bandung tersebut merupakan tindakan yang tepat, karena kekuatan TRI tidak akan sanggup melawan pihak musuh yang berkekuatan besar. Selanjutnya TRI melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung. Peristiwa ini melahirkan lagu "Halo-Halo Bandung" yang bersemangat membakar daya juang rakyat Indonesia.

Selengkapnya mengenai Peristiwa Bandung Lautan Api, anda bisa membaca buku; "Saya Pilih Mengungsi", buku ini dapat anda dapatkan di sekretariat Bandung Heritage.
http://www.bandungheritage.org/index.php?option=com_content&task=view&id=28&Itemid=44

Rabu, 17 September 2008

step up

Step up 2 the street

Saat seorang penari jalanan Andie (Briana Evigan) masuk sekolah seni elite, Maryland School of the Arts, ia menyadari bahwa ia harus menyesuaikan diri disaat ia ingin bertahan dengan gaya hidupnya. Ketika ia bergabung dengan penari terbaik di sekolah tersebut, Chase (Robert Hoffman) dalam membentuk sebuah kelompok untuk mengikuti lomba tari jalanan Baltimore, The Streets, Andie menemukan impiannya saat ia menyatukan dua dunia yang berbeda

Jenis Film :

Drama/musical

Produser :

Adam Shankman, Erik Feig, Patrick Wachsberger

Produksi :

Summit

Homepage :

http://www.stepup2.be/

Durasi :

98 Min


Cast & Crew

Pemain :

Briana Evigan
Robert Hoffman
Will Kemp
Sonja Sohn

Sutradara :

Jon M. Chu

Penulis :

Tony Ann Johnson
Karen Barna

Rabu, 03 September 2008

hal terbesar yg aku inginkan

aku ingin menciptakan kehidupan yang sukses..
aku ingin menciptakan kehidupan yang bahagia..
aku ingin menjalankan kehidupan yang sempurna..
aku ingin mempunyai kehidupan tanpa ada satu hal yang membuat kehidupanku tak bahagia..
aku hanya ingin mempunyai kehidupan yang sempurna.

resep makanan

Ayam Goreng Tepung
Ayam Goreng Tepung, renyah didalam garing diluar. Ayam Goreng Tepung paling cocok disajikan dengan saos sambal.
Bahan:
Dada ayam 2 buah potong menjadi 8 bagian.
Kecap asin 2 sdm
Garam
Merica
Putih Telur 1 bh kocok lepas

Untuk Tepung:
Tepung terigu 3 sdm
Tepung sagu 3 sdm
Garam
Merica

Cara memasak:
Setelah ayam dipotong-potong bumbui ayam dengan kecap asin, garam, merica, taruh dalam lemari pedingin anda tutupi selama 1 malam.

Saat mau digoreng campur ayam dengan putih telur dahulu, diamkan 1/2 jam.

Lumuri ayam ke campuran tepung tadi dan goreng dengan api banyak sampai kecoklatan.
Nikmati selagi hangat dengan cocolan saus sambal.

puisi

CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.

1946

lagu

Sadis - Lirik Lagu Afgan

Terlalu Sadis Caramu
Menjadikan Diriku
Pelampiasan Cintamu
Agar Dia Kembali Padamu
Tanpa Perduli Sakitnya Aku

Tega Nian Nya Caramu
Menyingkirkan Diriku
Dari Percintaan Ini
Agar Dia Kembali Padamu
Tanpa Perduli Sakitnya Aku

Semoga Tuhan Membalas Semua Yang Terjadi
Kepadaku Suatu Saat Nanti
Hingga Kau Sadari Sesungguhnya Yang Kau Punya
Hanya Aku Tempatmu Kembali
Sebagai Cintamu

Hanya Aku Tempat Mu Kembali

Semoga Tuhan Membalas Semua Yang Terjadi
Kepadaku Suatu Saat Nanti
Hingga Kau Sadari Sesungguhnya Yang Kau Punya
Hanya Aku Tempatmu Kembali
Sebagai Cintamu

Hingga Kau Sadari Sesungguhnya Yang Kau Punya
Hanya Aku Ooo...............
Sebagai Cintamu

Lirik Lagu Sadis - Afgan